Sunan Giri Ia
memiliki nama kecil Raden Paku, alias Muhammad Ainul Yakin. Sunan Giri
lahir di Blambangan (kini Banyuwangi) pada 1442 M. Ada juga yang
menyebutnya Jaka Samudra. Sebuah nama yang dikaitkan dengan masa
kecilnya yang pernah dibuang oleh keluarga ibunya–seorang putri raja
Blambangan bernama Dewi Sekardadu ke laut. Raden Paku kemudian dipungut
anak oleh Nyai Semboja (Babad Tanah Jawi versi Meinsma).
Ayahnya adalah Maulana Ishak. saudara sekandung Maulana Malik
Ibrahim. Maulana Ishak berhasil meng-Islamkan isterinya, tapi gagal
mengislamkan sang mertua. Oleh karena itulah ia meninggalkan keluarga
isterinya berkelana hingga ke Samudra Pasai.
Sunan Giri kecil menuntut ilmu di pesantren misannya, Sunan Ampel,
tempat dimana Raden Patah juga belajar. Ia sempat berkelana ke Malaka
dan Pasai. Setelah merasa cukup ilmu, ia membuka pesantren di daerah
perbukitan Desa Sidomukti, Selatan Gresik. Dalam bahasa Jawa, bukit
adalah “giri”. Maka ia dijuluki Sunan Giri.
Pesantrennya tak hanya dipergunakan sebagai tempat pendidikan dalam
arti sempit, namun juga sebagai pusat pengembangan masyarakat. Raja
Majapahit -konon karena khawatir Sunan Giri mencetuskan pemberontakan-
memberi keleluasaan padanya untuk mengatur pemerintahan. Maka pesantren
itupun berkembang menjadi salah satu pusat kekuasaan yang disebut Giri
Kedaton. Sebagai pemimpin pemerintahan, Sunan Giri juga disebut sebagai
Prabu Satmata.
Giri Kedaton tumbuh menjadi pusat politik yang penting di Jawa, waktu
itu. Ketika Raden Patah melepaskan diri dari Majapahit, Sunan Giri
malah bertindak sebagai penasihat dan panglima militer Kesultanan Demak.
Hal tersebut tercatat dalam Babad Demak. Selanjutnya, Demak tak lepas
dari pengaruh Sunan Giri. Ia diakui juga sebagai mufti, pemimpin
tertinggi keagamaan, se-Tanah Jawa.
Giri Kedaton bertahan hingga 200 tahun. Salah seorang penerusnya,
Pangeran Singosari, dikenal sebagai tokoh paling gigih menentang kolusi
VOC dan Amangkurat II pada Abad 18.
Para santri pesantren Giri juga dikenal sebagai penyebar Islam yang
gigih ke berbagai pulau, seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku,
Ternate, hingga Nusa Tenggara. Penyebar Islam ke Sulawesi Selatan, Datuk
Ribandang dan dua sahabatnya, adalah murid Sunan Giri yang berasal dari
Minangkabau.
Dalam keagamaan, ia dikenal karena pengetahuannya yang luas dalam
ilmu fikih. Orang-orang pun menyebutnya sebagai Sultan Abdul Fakih. Ia
juga pecipta karya seni yang luar biasa. Permainan anak seperti
Jelungan, Jamuran, lir-ilir dan cublak suweng disebut sebagai kreasi
Sunan Giri. Demikian pula Gending Asmaradana dan Pucung -lagi bernuansa
Jawa namun syarat dengan ajaran Islam.
Setelah
membahas Sejarah Sunan Giri diatas, kami juga memproduksi karpet masjid,
dengan kualitas terbaik dan harga terjangkau. Karpet Masjid Terbaik dengan
ketebalan, dan kemembutan yang pas sehingga nyaman saat diguakan untuk sholat.
Jika ingin mengetahui lebih lanjut, kunjungi web kami www.juragankarpet.com
Sumber:
http://www.sejarahindonesia.xyz/2012/07/sejarah-sunan-giri.html
kisahsunangiri.blogspot.com
Kamis, 31 Januari 2019
Rabu, 30 Januari 2019
Biografi Sunan Bonang
Sunan Bonang. Ia
anak Sunan Ampel, yang berarti juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Nama
kecilnya adalah Raden Makdum Ibrahim. Lahir diperkirakan 1465 M dari
seorang perempuan bernama Nyi Ageng Manila, puteri seorang adipati di
Tuban. Sunan Bonang belajar agama dari pesantren ayahnya di Ampel Denta.
Setelah cukup dewasa, ia berkelana untuk berdakwah di berbagai pelosok
Pulau Jawa. Mula-mula ia berdakwah di Kediri, yang mayoritas
masyarakatnya beragama Hindu. Di sana ia mendirikan Masjid Sangkal Daha.
Ia kemudian menetap di Bonang -desa kecil di Lasem, Jawa Tengah -sekitar 15 kilometer timur kota Rembang. Di desa itu ia membangun tempat pesujudan/zawiyah sekaligus pesantren yang kini dikenal dengan nama Watu Layar. Ia kemudian dikenal pula sebagai imam resmi pertama Kesultanan Demak, dan bahkan sempat menjadi panglima tertinggi. Meskipun demikian, Sunan Bonang tak pernah menghentikan kebiasaannya untuk berkelana ke daerah-daerah yang sangat sulit.
Ia acap berkunjung ke daerah-daerah terpencil di Tuban, Pati, Madura maupun Pulau Bawean. Di Pulau inilah, pada 1525 M ia meninggal. Jenazahnya dimakamkan di Tuban, di sebelah barat Masjid Agung, setelah sempat diperebutkan oleh masyarakat Bawean dan Tuban.Tak seperti Sunan Giri yang lugas dalam fikih, ajaran Sunan Bonang memadukan ajaran ahlussunnah bergaya tasawuf dan garis salaf ortodoks. Ia menguasai ilmu fikih, usuludin, tasawuf, seni, sastra dan arsitektur. Masyarakat juga mengenal Sunan Bonang sebagai seorang yang piawai mencari sumber air di tempat-tempat gersang.
Ajaran Sunan Bonang berintikan pada filsafat ‘cinta'(‘isyq). Sangat mirip dengan kecenderungan Jalalludin Rumi. Menurut Bonang, cinta sama dengan iman, pengetahuan intuitif (makrifat) dan kepatuhan kepada Allah SWT atau haq al yaqqin. Ajaran tersebut disampaikannya secara populer melalui media kesenian yang disukai masyarakat. Dalam hal ini, Sunan Bonang bahu-membahu dengan murid utamanya, Sunan Kalijaga.
Sunan Bonang banyak melahirkan karya sastra berupa suluk, atau tembang tamsil. Salah satunya adalah “Suluk Wijil” yang tampak dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa’id Al Khayr (wafat pada 899). Suluknya banyak menggunakan tamsil cermin, bangau atau burung laut. Sebuah pendekatan yang juga digunakan oleh Ibnu Arabi, Fariduddin Attar, Rumi serta Hamzah Fansuri.
Sunan Bonang juga menggubah gamelan Jawa yang saat itu kental dengan estetika Hindu, dengan memberi nuansa baru. Dialah yang menjadi kreator gamelan Jawa seperti sekarang, dengan menambahkan instrumen bonang. Gubahannya ketika itu memiliki nuansa dzikir yang mendorong kecintaan pada kehidupan transedental (alam malakut). Tembang “Tombo Ati” adalah salah satu karya Sunan Bonang.
Ia kemudian menetap di Bonang -desa kecil di Lasem, Jawa Tengah -sekitar 15 kilometer timur kota Rembang. Di desa itu ia membangun tempat pesujudan/zawiyah sekaligus pesantren yang kini dikenal dengan nama Watu Layar. Ia kemudian dikenal pula sebagai imam resmi pertama Kesultanan Demak, dan bahkan sempat menjadi panglima tertinggi. Meskipun demikian, Sunan Bonang tak pernah menghentikan kebiasaannya untuk berkelana ke daerah-daerah yang sangat sulit.
Ia acap berkunjung ke daerah-daerah terpencil di Tuban, Pati, Madura maupun Pulau Bawean. Di Pulau inilah, pada 1525 M ia meninggal. Jenazahnya dimakamkan di Tuban, di sebelah barat Masjid Agung, setelah sempat diperebutkan oleh masyarakat Bawean dan Tuban.Tak seperti Sunan Giri yang lugas dalam fikih, ajaran Sunan Bonang memadukan ajaran ahlussunnah bergaya tasawuf dan garis salaf ortodoks. Ia menguasai ilmu fikih, usuludin, tasawuf, seni, sastra dan arsitektur. Masyarakat juga mengenal Sunan Bonang sebagai seorang yang piawai mencari sumber air di tempat-tempat gersang.
Ajaran Sunan Bonang berintikan pada filsafat ‘cinta'(‘isyq). Sangat mirip dengan kecenderungan Jalalludin Rumi. Menurut Bonang, cinta sama dengan iman, pengetahuan intuitif (makrifat) dan kepatuhan kepada Allah SWT atau haq al yaqqin. Ajaran tersebut disampaikannya secara populer melalui media kesenian yang disukai masyarakat. Dalam hal ini, Sunan Bonang bahu-membahu dengan murid utamanya, Sunan Kalijaga.
Sunan Bonang banyak melahirkan karya sastra berupa suluk, atau tembang tamsil. Salah satunya adalah “Suluk Wijil” yang tampak dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa’id Al Khayr (wafat pada 899). Suluknya banyak menggunakan tamsil cermin, bangau atau burung laut. Sebuah pendekatan yang juga digunakan oleh Ibnu Arabi, Fariduddin Attar, Rumi serta Hamzah Fansuri.
Sunan Bonang juga menggubah gamelan Jawa yang saat itu kental dengan estetika Hindu, dengan memberi nuansa baru. Dialah yang menjadi kreator gamelan Jawa seperti sekarang, dengan menambahkan instrumen bonang. Gubahannya ketika itu memiliki nuansa dzikir yang mendorong kecintaan pada kehidupan transedental (alam malakut). Tembang “Tombo Ati” adalah salah satu karya Sunan Bonang.
Selasa, 29 Januari 2019
Senin, 28 Januari 2019
Sejarah Perjalanan Hidup Sunan Kudus
Sunan Kudus –
Nama Walisongo sudah tidak asing lagi di benak kita, seorang wali yang
menjadi sahabat Allah dan diberi amanah mengajarkan Islam kepada
masyarakat.
Mereka
sangat berperan penting dalam perkembangan dan penyebaran agama Islam
di Indonesia khususnya Pulau Jawa. Sayyid Ja’far Shadiq Azmatkhan atau
lebih dikenal dengan nama Sunan Kudus misalnya.
Beliau terkenal dalam mengajarkan ilmu fiqih, sehingga menjadi salah satu anggota Walisongo yang terkenal sebagai wali ilmu. Tidak hanya itu, Sunan Kudus juga menjadi imam syiah yang ke enam.
Sayyid
Ja’far Shadiq Azmatkhan lahir pada tanggal 9 September 1400 M / 808 H
diPalestina. Anak dari Raden Usman Hajji atau yang dikenal dengan
sebutan Sunan Ngudung, seorang panglima perang Kesultanan Demak Bintoro.
Ayahnya merupakan putra dari Sultan di Palestina yang bernama Sayyid Fadhal Ali Murtazha (Raja Pandita / Raden Santri).
Kemudian berhijrah sampai ke Pulau Jawa dan tiba di Kesultanan Islam Demak lalu diangkat menjadi panglima perang. Sunan Kudus belajar agama dengan ayahnya sendiri dan kepada Kyai Telingsing serta Sunan Ampel.
Kyai
Telingsing merupakan ulama China yang datang ke Jawa bersama Cheng Hoo,
yang kemudian menyebarkan agama Islam dan membuat tali persaudaraan
dengan orang Jawa.
Setelah itu beliau berdakwah di tengah-tengah masyarakat yang masih beragama Hindu dan Budha. Selama hidupnya Ja’far Shadiq menjabat beberapa pekerjaan di Kekhalifahan Islam Demak, diantaranya adalah

Zaman dahulu, mayoritas masyarakat memeluk agama Hindu dan Budha. Tidak mudah dalam memperkenalkan dan mengajari agama Islam, namun tidak bagi Sunan Kudus, beliau menggunakan metode syiar atau pendekatan budaya sehingga dengan mudah diterima masyarakat. Berikut ini cara dakwah yang disampaikan beliau :
Ajaran tersebut berupa menghormati sapi yang dikeramatkan umat Hindu serta membangun menara Masjid yang hampir sama dengan bangunan candi Hindu.
Setiap
pancuran diberi arca Kebo Gumarang yang dihormati di agama Budha.
Sehingga mereka menjadi penasaran dan akhirnya masuk ke area masjid
kemudian terpengaruh dengan penjelasan Sunan lalu ikut menjadi umat
Islam.
Wujud syukur mereka dipersembahkan kepada patung dan arca, bukan kepada Allah SWT. Tugas utama Sunan adalah meluruskan isi acara tersebut yaitu acara dibuat ke jalan islami dan tidak dihilangkan begitu saja.

Ayah beliau merupakan pemimpin pasukan Majapahit sekaligus menjadi Senopati Demak. Ayahnya gugur dalam pertempuran sengit melawan Husain atau Adipati Terung dari Majapahit.
Dan akhirnya Ja’far Shadiq menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Senopati Demak. Sebagai seorang Senopati, beliau tetap menyampaikan dakwah didaerah Kudus dan sekitarnya.
Yang disampaikan dalam dakwah mengutamakan sikap tenang dan halus sehingga masyarakat dapat menerima ajarannya tidak dengan paksaan. Selain itu Sunan ini dikenal sebagai seorang ulama yang suka mengembara, pernah sampai ke tanah suci untuk menunaikan ibadah Haji.
Saat berada di Mekkah, beliau membantu menyembuhkan warga yang sedang terkena wabah penyakit. Yang kemudian penguasa Arab memberikan sebuah batu yang berasal dari Baitul Maqdis. Lalu di bawa pulang batu tersebut ke Jawa dan meletakkannya di area Imam masjid Kudus yang sudah berdiri kokoh.

Tidak hanya mengajarkan agama Islam, namun beliau meninggalkan bukti sejarah yang sampai saat ini masih dirawat oleh masyarakat. Beberapa peninggalan tersebut antara lain :
Masjid yang didirikan pada tahun 1549 M ini ramai dikunjungi masyarakat untuk beribadah serta ziarah ke makam Sunan. Masjid ini menjadi pusat keramaian saat festival Dhandhangan dalam menyambut bulan Ramadhan.
Acara ini merupakan suatu rangkaian sakral wujud menghormati peninggalan Sunan Kudus. Dilakukan saat menyambut tradisi buka luwur (pergantian kerai di cungkup makam).
Sebagai acara sakral menghormati peninggalannya ini dilakukan dengan cara dijamas atau dimandikan. Selain menjaga pusaka peninggalannya, acara ini bertujuan mengingat nilai yang terkandung didalamnya yaitu kebijaksanaan dan kekuasaan (Dapur Panimbal).

Beliau wafat pada tahun 1550 M. Meninggal dunia pada saat menjadi Imam sholat subuh di Masjid Menara Kudus dalam posisi sujud. Kemudian di makamkan di lingkungan masjid tersebut. sampai sekarang makam beliau masih ramai dikunjungi dengan tujuan berziarah atau mendoakan.
Kebesaran hati dan kesabaran Sunan Kudus tidak hanya dalam menyampaikan dakwahnya saja, namun juga meninggalkan sejarah yang pantas untuk dilestarikan. Tokoh penting dalam masyarakat Islam dan menjadi panutan menjadikan beliau masih dikenang sampai sekarang.
Cara menyampaikan ajaran Islam yang berbeda dari Wali lainnya menjadikan beliau dengan mudah diterima oleh masyarakat. Peninggalan yang sekarang menjadi landmark Kota Kudus ini sangat ramai dikunjungi masyarakat dari berbagai Kota.
Setelah membahas Kisah Perjalanan Hidup Sunan Kudus diatas, kami juga memproduksi karpet masjid, dengan kualitas terbaik dan harga terjangkau. Karpet Masjid Custom dengan ketebalan, dan kemembutan yang pas sehingga nyaman saat diguakan untuk sholat. Jika ingin mengetahui lebih lanjut, kunjungi web kami www.juragankarpet.com
Sumber:
http://romadecade.org/sunan-kudus/
kisahhidupsunankudus.blogspot.com
Beliau terkenal dalam mengajarkan ilmu fiqih, sehingga menjadi salah satu anggota Walisongo yang terkenal sebagai wali ilmu. Tidak hanya itu, Sunan Kudus juga menjadi imam syiah yang ke enam.
Tokoh
yang sangat disegani masyarakat karena ajarannya dalam menyampaikan
ilmu agama Islam. Sampai dengan sekarang nama Sunan ini dikenal
masyarakat dan peninggalannya masih dilestarikan. Untuk mengenal lebih
banyak lagi, berikut akan dibahas mengenai Sunan Kudus.

Ayahnya merupakan putra dari Sultan di Palestina yang bernama Sayyid Fadhal Ali Murtazha (Raja Pandita / Raden Santri).
Kemudian berhijrah sampai ke Pulau Jawa dan tiba di Kesultanan Islam Demak lalu diangkat menjadi panglima perang. Sunan Kudus belajar agama dengan ayahnya sendiri dan kepada Kyai Telingsing serta Sunan Ampel.
Setelah itu beliau berdakwah di tengah-tengah masyarakat yang masih beragama Hindu dan Budha. Selama hidupnya Ja’far Shadiq menjabat beberapa pekerjaan di Kekhalifahan Islam Demak, diantaranya adalah
- Penasehat Khalifah (Sultan Demak)
- Panglima Perang
- Qadhi
- Mufti
- Imam besar Masjid Demak dan Masjid Kudus
- Mursyid Tarekat
- Naqib Nasab keturunan Azmatkhan
- Ketua Pasar Islam Walisongo
- Penanggung Jawab Pencetak Dinar Dirham Islam
- Ketua Baitulmal Walisongo
Metode Dakwah Sunan Kudus

Zaman dahulu, mayoritas masyarakat memeluk agama Hindu dan Budha. Tidak mudah dalam memperkenalkan dan mengajari agama Islam, namun tidak bagi Sunan Kudus, beliau menggunakan metode syiar atau pendekatan budaya sehingga dengan mudah diterima masyarakat. Berikut ini cara dakwah yang disampaikan beliau :
1. Mendekati Masyarakat Hindu
Masyarakat Hindu sangat berpegang teguh pada kepercayaannya sehingga metode ini sulit dilakukan, namun beliau mencoba agar masyarakat memeluk agama Islam. Ja’far Shadiq mengajarkan bahwa umat Islam bertoleransi tinggi terhadap masyarakat Hindu sehingga berjalannya waktu mereka mau masuk agama Islam.Ajaran tersebut berupa menghormati sapi yang dikeramatkan umat Hindu serta membangun menara Masjid yang hampir sama dengan bangunan candi Hindu.
2. Mendekati Masyarakat Budha
Metode ini berbeda dengan yang diterapkan ke masyarakat Hindu, disini beliau membuat tempat wudhu yang berbentuk pancuran sebanyak delapan titik pancuran.3. Mengubah Ritual Mitoni (Selametan)
Acara ini merupakan acara yang sejak zaman dahulu disakralkan oleh masyarakat Hindu-Budha. Isi dari mitoni adalah cara mengungkapkan rasa syukur karena telah dikaruniai seorang anak.Wujud syukur mereka dipersembahkan kepada patung dan arca, bukan kepada Allah SWT. Tugas utama Sunan adalah meluruskan isi acara tersebut yaitu acara dibuat ke jalan islami dan tidak dihilangkan begitu saja.
Kisah Perjuangan Sunan Kudus

Ayah beliau merupakan pemimpin pasukan Majapahit sekaligus menjadi Senopati Demak. Ayahnya gugur dalam pertempuran sengit melawan Husain atau Adipati Terung dari Majapahit.
Dan akhirnya Ja’far Shadiq menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Senopati Demak. Sebagai seorang Senopati, beliau tetap menyampaikan dakwah didaerah Kudus dan sekitarnya.
Yang disampaikan dalam dakwah mengutamakan sikap tenang dan halus sehingga masyarakat dapat menerima ajarannya tidak dengan paksaan. Selain itu Sunan ini dikenal sebagai seorang ulama yang suka mengembara, pernah sampai ke tanah suci untuk menunaikan ibadah Haji.
Saat berada di Mekkah, beliau membantu menyembuhkan warga yang sedang terkena wabah penyakit. Yang kemudian penguasa Arab memberikan sebuah batu yang berasal dari Baitul Maqdis. Lalu di bawa pulang batu tersebut ke Jawa dan meletakkannya di area Imam masjid Kudus yang sudah berdiri kokoh.
Peninggalan Sunan Kudus

Tidak hanya mengajarkan agama Islam, namun beliau meninggalkan bukti sejarah yang sampai saat ini masih dirawat oleh masyarakat. Beberapa peninggalan tersebut antara lain :
1. Masjid Dan Menara Kudus
Disebut juga Masjid Al Manar atau nama resminya Masjid Al Aqsa Manarat Qudus. Sebuah masjid yang berada di Kabupaten Kudus Jawa Tengah. Bangunan Masjid dengan gaya arsitektur Islam, Hindu, dan Budha ini memiliki keunikan dan keindahan sehingga menunjukkan terjadinya proses akulturasi.Masjid yang didirikan pada tahun 1549 M ini ramai dikunjungi masyarakat untuk beribadah serta ziarah ke makam Sunan. Masjid ini menjadi pusat keramaian saat festival Dhandhangan dalam menyambut bulan Ramadhan.
2. Keris Cintoko
Pusaka ini merupakan salah satu peninggalan sejarah yang masih dirawat sampai sekarang. Terdapat ritual rutin setiap tahun usai idul adha yaitu menjamas atau memandikan keris.Acara ini merupakan suatu rangkaian sakral wujud menghormati peninggalan Sunan Kudus. Dilakukan saat menyambut tradisi buka luwur (pergantian kerai di cungkup makam).
3. Dua Tombak Sunan Kudus
Sama dengan Keris Cintoko. Dua tombak ini juga merupakan peninggalan yang masih dilestarikan sampai sekarang. Upacara tradisi yang sudah berusia ratusan tahun dilaksanakan di dekat pintu makam Sunan.Sebagai acara sakral menghormati peninggalannya ini dilakukan dengan cara dijamas atau dimandikan. Selain menjaga pusaka peninggalannya, acara ini bertujuan mengingat nilai yang terkandung didalamnya yaitu kebijaksanaan dan kekuasaan (Dapur Panimbal).
4. Tembang Asmarandana
Salah satu peninggalan kesenian yang masih ditembangkan oleh beberapa masyarakat. Melalui tembang ini Sunan Kudus mengajarkan agama Islam dengan memasukkan lirik yang terkandung didalamnya. Sehingga dengan mudah diterima baik oleh masyarakat Hindu Budha saat itu.5. Peninggalan Lainnya
Adalah permintaan kepada masyarakat untuk tidak menyembelih hewan sapi untuk berkurban saat Idul Adha. Bertujuan untuk menghormati masyarakat Hindu, sehingga mereka mengganti hewan kurban dengan memotong kerbau. Dan kepercayaan ini masih dianut masyarakat sampai sekarang.Wafatnya Sunan Kudus

Beliau wafat pada tahun 1550 M. Meninggal dunia pada saat menjadi Imam sholat subuh di Masjid Menara Kudus dalam posisi sujud. Kemudian di makamkan di lingkungan masjid tersebut. sampai sekarang makam beliau masih ramai dikunjungi dengan tujuan berziarah atau mendoakan.
Kebesaran hati dan kesabaran Sunan Kudus tidak hanya dalam menyampaikan dakwahnya saja, namun juga meninggalkan sejarah yang pantas untuk dilestarikan. Tokoh penting dalam masyarakat Islam dan menjadi panutan menjadikan beliau masih dikenang sampai sekarang.
Cara menyampaikan ajaran Islam yang berbeda dari Wali lainnya menjadikan beliau dengan mudah diterima oleh masyarakat. Peninggalan yang sekarang menjadi landmark Kota Kudus ini sangat ramai dikunjungi masyarakat dari berbagai Kota.
Setelah membahas Kisah Perjalanan Hidup Sunan Kudus diatas, kami juga memproduksi karpet masjid, dengan kualitas terbaik dan harga terjangkau. Karpet Masjid Custom dengan ketebalan, dan kemembutan yang pas sehingga nyaman saat diguakan untuk sholat. Jika ingin mengetahui lebih lanjut, kunjungi web kami www.juragankarpet.com
Sumber:
http://romadecade.org/sunan-kudus/
kisahhidupsunankudus.blogspot.com
Langganan:
Komentar (Atom)

