Kamis, 31 Januari 2019

Sejarah Sunan Giri

Sunan Giri Ia memiliki nama kecil Raden Paku, alias Muhammad Ainul Yakin. Sunan Giri lahir di Blambangan (kini Banyuwangi) pada 1442 M. Ada juga yang menyebutnya Jaka Samudra. Sebuah nama yang dikaitkan dengan masa kecilnya yang pernah dibuang oleh keluarga ibunya–seorang putri raja Blambangan bernama Dewi Sekardadu ke laut. Raden Paku kemudian dipungut anak oleh Nyai Semboja (Babad Tanah Jawi versi Meinsma).
Ayahnya adalah Maulana Ishak. saudara sekandung Maulana Malik Ibrahim. Maulana Ishak berhasil meng-Islamkan isterinya, tapi gagal mengislamkan sang mertua. Oleh karena itulah ia meninggalkan keluarga isterinya berkelana hingga ke Samudra Pasai.
Sunan Giri kecil menuntut ilmu di pesantren misannya, Sunan Ampel, tempat dimana Raden Patah juga belajar. Ia sempat berkelana ke Malaka dan Pasai. Setelah merasa cukup ilmu, ia membuka pesantren di daerah perbukitan Desa Sidomukti, Selatan Gresik. Dalam bahasa Jawa, bukit adalah “giri”. Maka ia dijuluki Sunan Giri.
Pesantrennya tak hanya dipergunakan sebagai tempat pendidikan dalam arti sempit, namun juga sebagai pusat pengembangan masyarakat. Raja Majapahit -konon karena khawatir Sunan Giri mencetuskan pemberontakan- memberi keleluasaan padanya untuk mengatur pemerintahan. Maka pesantren itupun berkembang menjadi salah satu pusat kekuasaan yang disebut Giri Kedaton. Sebagai pemimpin pemerintahan, Sunan Giri juga disebut sebagai Prabu Satmata.

Giri Kedaton tumbuh menjadi pusat politik yang penting di Jawa, waktu itu. Ketika Raden Patah melepaskan diri dari Majapahit, Sunan Giri malah bertindak sebagai penasihat dan panglima militer Kesultanan Demak. Hal tersebut tercatat dalam Babad Demak. Selanjutnya, Demak tak lepas dari pengaruh Sunan Giri. Ia diakui juga sebagai mufti, pemimpin tertinggi keagamaan, se-Tanah Jawa.
Giri Kedaton bertahan hingga 200 tahun. Salah seorang penerusnya, Pangeran Singosari, dikenal sebagai tokoh paling gigih menentang kolusi VOC dan Amangkurat II pada Abad 18.

Para santri pesantren Giri juga dikenal sebagai penyebar Islam yang gigih ke berbagai pulau, seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, hingga Nusa Tenggara. Penyebar Islam ke Sulawesi Selatan, Datuk Ribandang dan dua sahabatnya, adalah murid Sunan Giri yang berasal dari Minangkabau.
Dalam keagamaan, ia dikenal karena pengetahuannya yang luas dalam ilmu fikih. Orang-orang pun menyebutnya sebagai Sultan Abdul Fakih. Ia juga pecipta karya seni yang luar biasa. Permainan anak seperti Jelungan, Jamuran, lir-ilir dan cublak suweng disebut sebagai kreasi Sunan Giri. Demikian pula Gending Asmaradana dan Pucung -lagi bernuansa Jawa namun syarat dengan ajaran Islam.


Setelah membahas Sejarah Sunan Giri diatas, kami juga memproduksi karpet masjid, dengan kualitas terbaik dan harga terjangkau. Karpet Masjid Terbaik dengan ketebalan, dan kemembutan yang pas sehingga nyaman saat diguakan untuk sholat. Jika ingin mengetahui lebih lanjut, kunjungi web kami www.juragankarpet.com


Sumber:
http://www.sejarahindonesia.xyz/2012/07/sejarah-sunan-giri.html 
kisahsunangiri.blogspot.com 

Rabu, 30 Januari 2019

Biografi Sunan Bonang

Sunan Bonang. Ia anak Sunan Ampel, yang berarti juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Nama kecilnya adalah Raden Makdum Ibrahim. Lahir diperkirakan 1465 M dari seorang perempuan bernama Nyi Ageng Manila, puteri seorang adipati di Tuban. Sunan Bonang belajar agama dari pesantren ayahnya di Ampel Denta. Setelah cukup dewasa, ia berkelana untuk berdakwah di berbagai pelosok Pulau Jawa. Mula-mula ia berdakwah di Kediri, yang mayoritas masyarakatnya beragama Hindu. Di sana ia mendirikan Masjid Sangkal Daha.
Ia kemudian menetap di Bonang -desa kecil di Lasem, Jawa Tengah -sekitar 15 kilometer timur kota Rembang. Di desa itu ia membangun tempat pesujudan/zawiyah sekaligus pesantren yang kini dikenal dengan nama Watu Layar. Ia kemudian dikenal pula sebagai imam resmi pertama Kesultanan Demak, dan bahkan sempat menjadi panglima tertinggi. Meskipun demikian, Sunan Bonang tak pernah menghentikan kebiasaannya untuk berkelana ke daerah-daerah yang sangat sulit.

Ia acap berkunjung ke daerah-daerah terpencil di Tuban, Pati, Madura maupun Pulau Bawean. Di Pulau inilah, pada 1525 M ia meninggal. Jenazahnya dimakamkan di Tuban, di sebelah barat Masjid Agung, setelah sempat diperebutkan oleh masyarakat Bawean dan Tuban.Tak seperti Sunan Giri yang lugas dalam fikih, ajaran Sunan Bonang memadukan ajaran ahlussunnah bergaya tasawuf dan garis salaf ortodoks. Ia menguasai ilmu fikih, usuludin, tasawuf, seni, sastra dan arsitektur. Masyarakat juga mengenal Sunan Bonang sebagai seorang yang piawai mencari sumber air di tempat-tempat gersang.
Ajaran Sunan Bonang berintikan pada filsafat ‘cinta'(‘isyq). Sangat mirip dengan kecenderungan Jalalludin Rumi. Menurut Bonang, cinta sama dengan iman, pengetahuan intuitif (makrifat) dan kepatuhan kepada Allah SWT atau haq al yaqqin. Ajaran tersebut disampaikannya secara populer melalui media kesenian yang disukai masyarakat. Dalam hal ini, Sunan Bonang bahu-membahu dengan murid utamanya, Sunan Kalijaga.
Sunan Bonang banyak melahirkan karya sastra berupa suluk, atau tembang tamsil. Salah satunya adalah “Suluk Wijil” yang tampak dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa’id Al Khayr (wafat pada 899). Suluknya banyak menggunakan tamsil cermin, bangau atau burung laut. Sebuah pendekatan yang juga digunakan oleh Ibnu Arabi, Fariduddin Attar, Rumi serta Hamzah Fansuri.
Sunan Bonang juga menggubah gamelan Jawa yang saat itu kental dengan estetika Hindu, dengan memberi nuansa baru. Dialah yang menjadi kreator gamelan Jawa seperti sekarang, dengan menambahkan instrumen bonang. Gubahannya ketika itu memiliki nuansa dzikir yang mendorong kecintaan pada kehidupan transedental (alam malakut). Tembang “Tombo Ati” adalah salah satu karya Sunan Bonang.

Selasa, 29 Januari 2019

Kisah Teladan Sunan Muria

Senin, 28 Januari 2019

Sejarah Perjalanan Hidup Sunan Kudus

Sunan Kudus – Nama Walisongo sudah tidak asing lagi di benak kita, seorang wali yang menjadi sahabat Allah dan diberi amanah mengajarkan Islam kepada masyarakat.
Mereka sangat berperan penting dalam perkembangan dan penyebaran agama Islam di Indonesia khususnya Pulau Jawa. Sayyid Ja’far Shadiq Azmatkhan atau lebih dikenal dengan nama Sunan Kudus misalnya.
Beliau terkenal dalam mengajarkan ilmu fiqih, sehingga menjadi salah satu anggota Walisongo yang terkenal sebagai wali ilmu. Tidak hanya itu, Sunan Kudus juga menjadi imam syiah yang ke enam.
Tokoh yang sangat disegani masyarakat karena ajarannya dalam menyampaikan ilmu agama Islam. Sampai dengan sekarang nama Sunan ini dikenal masyarakat dan peninggalannya masih dilestarikan. Untuk mengenal lebih banyak lagi, berikut akan dibahas mengenai Sunan Kudus.

Sunan Kudus
Sayyid Ja’far Shadiq Azmatkhan lahir pada tanggal 9 September 1400 M / 808 H diPalestina. Anak dari Raden Usman Hajji atau yang dikenal dengan sebutan Sunan Ngudung, seorang panglima perang Kesultanan Demak Bintoro.
Ayahnya merupakan putra dari Sultan di Palestina yang bernama Sayyid Fadhal Ali Murtazha (Raja Pandita / Raden Santri).
Kemudian berhijrah sampai ke Pulau Jawa dan tiba di Kesultanan Islam Demak lalu diangkat menjadi panglima perang. Sunan Kudus belajar agama dengan ayahnya sendiri dan kepada Kyai Telingsing serta Sunan Ampel.
Kyai Telingsing merupakan ulama China yang datang ke Jawa bersama Cheng Hoo, yang kemudian menyebarkan agama Islam dan membuat tali persaudaraan dengan orang Jawa.
Setelah itu beliau berdakwah di tengah-tengah masyarakat yang masih beragama Hindu dan Budha. Selama hidupnya Ja’far Shadiq menjabat beberapa pekerjaan di Kekhalifahan Islam Demak, diantaranya adalah
  1. Penasehat Khalifah (Sultan Demak)
  2. Panglima Perang
  3. Qadhi
  4. Mufti
  5. Imam besar Masjid Demak dan Masjid Kudus
  6. Mursyid Tarekat
  7. Naqib Nasab keturunan Azmatkhan
  8. Ketua Pasar Islam Walisongo
  9. Penanggung Jawab Pencetak Dinar Dirham Islam
  10. Ketua Baitulmal Walisongo

Metode Dakwah Sunan Kudus

Sunan Kudus
Zaman dahulu, mayoritas masyarakat memeluk agama Hindu dan Budha. Tidak mudah dalam memperkenalkan dan mengajari agama Islam, namun tidak bagi Sunan Kudus, beliau menggunakan metode syiar atau pendekatan budaya sehingga dengan mudah diterima masyarakat. Berikut ini cara dakwah yang disampaikan beliau :

1. Mendekati Masyarakat Hindu

Masyarakat Hindu sangat berpegang teguh pada kepercayaannya sehingga metode ini sulit dilakukan, namun beliau mencoba agar masyarakat memeluk agama Islam. Ja’far Shadiq mengajarkan bahwa umat Islam bertoleransi tinggi terhadap masyarakat Hindu sehingga berjalannya waktu mereka mau masuk agama Islam.
Ajaran tersebut berupa menghormati sapi yang dikeramatkan umat Hindu serta membangun menara Masjid yang hampir sama dengan bangunan candi Hindu.

2. Mendekati Masyarakat Budha

Metode ini berbeda dengan yang diterapkan ke masyarakat Hindu, disini beliau membuat tempat wudhu yang berbentuk pancuran sebanyak delapan titik pancuran.
Setiap pancuran diberi arca Kebo Gumarang yang dihormati di agama Budha. Sehingga mereka menjadi penasaran dan akhirnya masuk ke area masjid kemudian terpengaruh dengan penjelasan Sunan lalu ikut menjadi umat Islam.

3. Mengubah Ritual Mitoni (Selametan)

Acara ini merupakan acara yang sejak zaman dahulu disakralkan oleh masyarakat Hindu-Budha. Isi dari mitoni adalah cara mengungkapkan rasa syukur karena telah dikaruniai seorang anak.
Wujud syukur mereka dipersembahkan kepada patung dan arca, bukan kepada Allah SWT. Tugas utama Sunan adalah meluruskan isi acara tersebut yaitu acara dibuat ke jalan islami dan tidak dihilangkan begitu saja.

Kisah Perjuangan Sunan Kudus

Sunan Kudus
Ayah beliau merupakan pemimpin pasukan Majapahit sekaligus menjadi Senopati Demak. Ayahnya gugur dalam pertempuran sengit melawan Husain atau Adipati Terung dari Majapahit.
Dan akhirnya Ja’far Shadiq menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Senopati Demak. Sebagai seorang Senopati, beliau tetap menyampaikan dakwah didaerah Kudus dan sekitarnya.
Yang disampaikan dalam dakwah mengutamakan sikap tenang dan halus sehingga masyarakat dapat menerima ajarannya tidak dengan paksaan. Selain itu Sunan ini dikenal sebagai seorang ulama yang suka mengembara, pernah sampai ke tanah suci untuk menunaikan ibadah Haji.
Saat berada di Mekkah, beliau membantu menyembuhkan warga yang sedang terkena wabah penyakit. Yang kemudian penguasa Arab memberikan sebuah batu yang berasal dari Baitul Maqdis. Lalu di bawa pulang batu tersebut ke Jawa dan meletakkannya di area Imam masjid Kudus yang sudah berdiri kokoh.

Peninggalan Sunan Kudus

Sunan Kudus
Tidak hanya mengajarkan agama Islam, namun beliau meninggalkan bukti sejarah yang sampai saat ini masih dirawat oleh masyarakat. Beberapa peninggalan tersebut antara lain :

1. Masjid Dan Menara Kudus

Disebut juga Masjid Al Manar atau nama resminya Masjid Al Aqsa Manarat Qudus. Sebuah masjid yang berada di Kabupaten Kudus Jawa Tengah. Bangunan Masjid dengan gaya arsitektur Islam, Hindu, dan Budha ini memiliki keunikan dan keindahan sehingga menunjukkan terjadinya proses akulturasi.
Masjid yang didirikan pada tahun 1549 M ini ramai dikunjungi masyarakat untuk beribadah serta ziarah ke makam Sunan. Masjid ini menjadi pusat keramaian saat festival Dhandhangan dalam menyambut bulan Ramadhan.

2. Keris Cintoko

Pusaka ini merupakan salah satu peninggalan sejarah yang masih dirawat sampai sekarang. Terdapat ritual rutin setiap tahun usai idul adha yaitu menjamas atau memandikan keris.
Acara ini merupakan suatu rangkaian sakral wujud menghormati peninggalan Sunan Kudus. Dilakukan saat menyambut tradisi buka luwur (pergantian kerai di cungkup makam).

3. Dua Tombak Sunan Kudus

Sama dengan Keris Cintoko. Dua tombak ini juga merupakan peninggalan yang masih dilestarikan sampai sekarang. Upacara tradisi yang sudah berusia ratusan tahun dilaksanakan di dekat pintu makam Sunan.
Sebagai acara sakral menghormati peninggalannya ini dilakukan dengan cara dijamas atau dimandikan. Selain menjaga pusaka peninggalannya, acara ini bertujuan mengingat nilai yang terkandung didalamnya yaitu kebijaksanaan dan kekuasaan (Dapur Panimbal).

4. Tembang Asmarandana

Salah satu peninggalan kesenian yang masih ditembangkan oleh beberapa masyarakat. Melalui tembang ini Sunan Kudus mengajarkan agama Islam dengan memasukkan lirik yang terkandung didalamnya. Sehingga dengan mudah diterima baik oleh masyarakat Hindu Budha saat itu.

5. Peninggalan Lainnya

Adalah permintaan kepada masyarakat untuk tidak menyembelih hewan sapi untuk berkurban saat Idul Adha. Bertujuan untuk menghormati masyarakat Hindu, sehingga mereka mengganti hewan kurban dengan memotong kerbau. Dan kepercayaan ini masih dianut masyarakat sampai sekarang.

Wafatnya Sunan Kudus

Sunan Kudus
Beliau wafat pada tahun 1550 M. Meninggal dunia pada saat menjadi Imam sholat subuh di Masjid Menara Kudus dalam posisi sujud. Kemudian di makamkan  di lingkungan masjid tersebut. sampai sekarang makam beliau masih ramai dikunjungi dengan tujuan berziarah atau mendoakan.
Kebesaran hati dan kesabaran Sunan Kudus tidak hanya dalam menyampaikan dakwahnya saja, namun juga meninggalkan sejarah yang pantas untuk dilestarikan. Tokoh penting dalam masyarakat Islam dan menjadi panutan menjadikan beliau masih dikenang sampai sekarang.
Cara menyampaikan ajaran Islam yang berbeda dari Wali lainnya menjadikan beliau dengan mudah diterima oleh masyarakat. Peninggalan yang sekarang menjadi landmark Kota Kudus ini sangat ramai dikunjungi masyarakat dari berbagai Kota.




Setelah membahas Kisah Perjalanan Hidup Sunan Kudus diatas, kami juga memproduksi karpet masjid, dengan kualitas terbaik dan harga terjangkau. Karpet Masjid Custom dengan ketebalan, dan kemembutan yang pas sehingga nyaman saat diguakan untuk sholat. Jika ingin mengetahui lebih lanjut, kunjungi web kami www.juragankarpet.com


Sumber:
http://romadecade.org/sunan-kudus/ 
kisahhidupsunankudus.blogspot.com